Bisnis Herbal Naturonal Creatama, Peluang Usaha di Tengah Pandemi

bisnis herbal

Siapa yang menyangka, selama pandemi masih merajalela secara global, peluang bisnis herbal ini justru semakin naik daun. Salah satunya Naturonal Creatama Indonesia milik Dr. Kintoko, M,Sc. yang beralamat di Dusun Keloran, Desa Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Awal Mendirikan Bisnis Herbal

Bapak Kintoko mendirikan usaha herbal ini karena latar belakangnya sebagai pengajar di Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Fokus beliau adalah di pengembanagn bahan alam salah satunya herbal. Selain itu juga ada bahan aktif bahari, laut, sumber mineral dan beberapa dari hewan seperti cacing. Bapak Kintoko mendapat ketertarikan di bidang herbal ini bermula dari penelitian beliau sendiri sewaktu dulu mengambil S1 di Fakultas Farmasi UGM kemudian melanjutkan S2 di Universitas Kebangsaan Malaysia dan kemudian puncaknya ada di Universitas Kedokteran China dengan mendalami khusus tentang herbal, sehingga ketertarikan beliau tentang dunia herbal juga semakin kuat. Bapak Kintoko merasa bahwa china bisa mengembangkan herbal sedemikian pesat, sedangkan Indonesia tidak bisa, padahal kekayaan alam Indonesia tidak kalah dengan china bahkan jika dikatakan mempunyai koleksi herbal 30.000 jenis tanaman, ternyata permasalahan utamanya itu terkait dengan bagaimana herbal itu dihadirkan secara menarik dihadapan masyarakat sehingga bisa dikenal lebih familiar. Banyak sekali herbal-herbal yang sebetulnya berkhasiat tetapi tidak diketahui oleh masyarakat dan itulah hal yang memotivasi Bapak Kintoko untuk mendirikan perusahaan.

Bisnis Herbal di Tengah Pandemi

Dengan adanya pandemi pada awal  Maret bagi Bapak Kintoko merupakan suatu keberkahan, dalam arti disitulah masyarakat merasa bahwa solusi atas problem pandemi larinya ke herbal karena mereka takut ke rumah sakit dan dari situ bisa tahu pada masa itu harga jahe merah sampai melambung tinggi karena masyarakat ingin mencari jahe untuk pencegahaan terhadap covid.

Pertama kali Bapak Kintoko menjual produk teh, tetapi teh yang dibuat bukan teh seperti pada umunya tetapi teh yang diformulasikan dengan kombinasi racikan, jadi bukan teh saja tetapi ada kombinasi atau campurannya dan salah satunya yang  pertama launching dan banyak peminatnya yaitu teh tirgonila. Komposisinya disitu ada klabet, teh hijau dan kayu manis. Formula ini didapatkan melalui sebuah penelitian yang cukup panjang melalui literasi-literasi ilmiah terutama dari negara-negara Asia Timur dimana angka kejadian penyakit terutama penyakit metabolik  sangat rendah, ternyata salah satu budaya yang digunakan masyarakat Asia Timur adalah dengan mengkonsumsi jenis teh. Kemudian Bapak Kintoko berinisiatif untuk mengembangkan minuman kesehatan yang basisnya adalah teh. Dengan kandungan senyawa teh herbal ini yang banyak, di lidah masyarakat yang tidak terbiasa mengkonsumsi kandungan yang seperti ini banyak yang mengeluhkan rasanya tidak enak dan sebagainya. Tetapi hal tersebut menurut Bapak Kintoko merupakan sebuah proses adaptasi dari kebudayaan lama yang minum teh apalagi memakai gula kemudian dikenalkan dengan teh kesehatan yang tidak perlu memakai gula. Beliau selalu menggunakan filosofi bahwa masyarakat yang ingin mencoba dan  merasakan manfatnya maka dia bisa bergeser dari kebudayaan lama kepada teh herbal yang beliau poduksi dan didorong terus untuk bisa menjadi salah satu bagian upaya kesehatan masyarakat.

Pengalaman Menarik Selama Mendirikan Bisnis Herbal

Satu pengalaman menarik yang diingat Bapak Kintoko, pada waktu itu banyak yang merasakan efektivitas produk ini untuk melangsingkan tubuh dan kemudian mendapatkan buyer yang cukup besar dari jakara,, tetapi buyernya ini menginginkan sesuatu dengan cepat. Jadi beliau merasa kewalahan memenuhi permintaan sampai suatu ketika ia meminta dalam skala besar 40.000pcs dalam satu bulan. Tetapi pada waktu itu proses produksinya tidak mencukupi kemudian dishare ke produksi lain, namun  kualitas bahan baku yang digunakan ternyata berbeda dan  menyebabkan produk itu ditolak dan mengalami kerugian yang cukup besar. Dari situlah Bapk Kintoko belajar bahwa ketika bahan baku itu ganti atau berbeda dengan asalnya, khasiatnya langsung berbeda drastis. Sehingga konsumen yang membeli merasakan kenapa tidak sama dengan seperti waktu awal dia membeli. Itu merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi Bapak Kintoko sehingga beliau tidak berani mengambil sembarangan tempat dalam mengambil bahan baku.

Tips Memulai Bisnis Herbal

Bapak Kintoko mengatakan bahwa ada sebuah ilustrasi apakah kita akan seterusnya menjadi pemain atau menjadi penonton. Herbal merupakan sebuah medan atau kompetisi yang luar biasa terutama Indonesia dengan 260 juta dan merupakan pasar yang menggiurkan, tetapi sayang generasi muda hanya menjadi penonton. Itu artinya hanya menjadi pasar produk dari china yang sudah membanjiri pasar Indonesia sebanyak kurang lebih 40%. Jadi yang akan meneruskan cita-cita ini para generasi muda yang kemudian ia menyadari inilah potensi besar yang bisa dikembangkan dengan cukup belajar salah satu, apa mau belajar dimarketingnya atau belajar diilmu herbalnya. Kebanyakan yang bukan background kesehatan lebih mudah belajar di sisi marketingnya sehingga ia dapat mengembangkan herbal ini sebagai sebuah tumpuan hidup, sumber penghasilan yang cukup menjanjikan, karena Bapak Kintoko sudah tau potensi herbal itu cukup besar. Sekitar 2020 ini prediksinya mecapai 18,8 triliun rupiah se-Indonesia.

Yuk simak kisah selengkapnya pada video berikut ini..